Senin, 21 September 2015



MAKALAH
MEDIA PENDIDIKAN BERBASIS AUDIO VISUAL
“TELEVISI”
Disusun Guna Memenuhi Tugas:
Mata Kuliah                : Teknologi Pendidikan
Dosen Pengampu        : Moch. Iskarim, M.S.I


stain-pekalongan.gif








Oleh :

Nurul Awaliyah                                        2022111076




                                                                PRODI PBA
                                                      JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2013
BAB I
PENDAHULUAN

Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) telah memulai sirannya sejak tanggal 23 Januari 1991. TPI diselenggarakan dengan dorongan semangat untuk membantu mencerdaskan kehidupan bangsa, serta untuk membantu mewujudkan hak semua warga negara Indonesia untuk memperoleh pengajaran. TPI sebagai salah satu bentuk peran serta masyarakat, mempunyai misi untuk mewujudkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri sertaa bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Media televisi secara umum mempunyai tiga fungsi, yaitu fungsi hiburan, informasi, dan pendidikan. Khususnya pada TPI, sesuai dengan namanya, fungsi pendidikan merupakan ciri utamanya. Ditinjau dari segi komposisi isi siaran, maka acara pendidikan mendapat alokasi sebanyak 33,2% (masing-masing separuh untuk pendidikan sekolah dan untuk pendidikan luar sekolah), acara hiburan 31,9%, acara niaga 20%, acara berita/informasi 12,5%, dan acara penunjang 2,4%.[1]










BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Televisi
Kata “televisi” merupakan gabungan dari kata tele (jauh) dari bahasa Yunani dan visio (penglihatan) dari bahasa Latin. Sehingga televisi dapat diartikan sebagai telekomunikasi yang dapat dilihat dari jarak jauh. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia televisi secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Televisi artinya adalah
sistem penyiaran gambar yang disertai dengan bunyi (suara) melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat didengar .
Televisi adalah sistem elektronik yang mengirimkan gambar diam dan gambar hidup bersama suara melalui kabel atau ruang. Dewasa ini televisi yang dimanfaatkan untuk keperluan pendidikan dengan mudah dapat dijangkau melalui siaran dari udara ke udara dan dapat dihubungkan melalui satelit. Dengan demikian, ada dua jenis pengiriman (penyiaran) gambar dan suara, yaitu penyiaran langsung kejadian atau peristiwa yang kita saksikan sementara ia terjadi dan penyiaran yang telah direkam di atas pita film atau pita video.[2] Selain film, televisi adalah media yang menyampaikan pesan-pesan pembelajaran secara audio-visual dengan disertai unsur gerak. Dilihat dari sudut jumlah penerima pesannya televisi tergolong ke dalam media massa.[3] Televisi pendidikan adalah penggunaan program video yang direncanakan untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu tanpa melihat siapa yang menyiarkannya.
Ciri-ciri televisi pendidikan, yaitu:
1.      Dituntun oleh instruktur, seorang guru atau instruktur menuntun siswa melalui pengalaman-pengalaman visual.
2.      Sistematis, siaran berkaitan dengan mata pelajaran dan silabus dengan tujuan dan pengalaman belajar yang terencana.
3.      Teratur dan berurutan, siaran disajikan dengan selang waktu yang beraturan secara berurutan di mana satu siaran dibangun atau mendasari siaran lainnya.
4.      Terpadu, siaran berkaitan dengan pengalaman belajar lainnya seperti latihan, membaca, diskusi, laboratorium, percobaan, menulis, dan pemecahan masalah.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa siswa yang belajar melalui program televisi untuk berbagai mata pelajaran  dapat menguasai mata pelajaran tersebut sama seperti mereka yang mempelajarinya melalui tatap muka dengan guru kelas.[4]
B.     Manfaat Televisi dalam Pembelajaran
Selain banyak terdapat siaran yang bermanfaat secara khusus, di siaran televisi juga terdapat siaran-siaran umum yang mempunyai nilai pendidikan yang sangat tinggi, seperti siaran “dari desa kedesa
Beberapa alasan menggunakan siaran televisi :
1.      Siaran dapat membawa dunia luar ke dalam kelas yang menyamai pengalaman langsung.
2.      Siaran merupakan sumber informasi yang paling mutakhir dalam bentuk yang mudah dipahami, di samping buku, film, gambar, dan lain-lain.
3.      Siaran menciptakan suasana yang menyenangkan, merangsang dan membangkitkan ide-ide baru.
4.      Siaran dapat memberi informasi yang tidak segera dapat diberikan oleh guru atau tak dapat disajikannya dalam bentuk yang dapat menyamai siaran itu.
5.      Cara penyajian oleh siaran sangat hidup, menarik dan mengundang keterlibatan anak dalam peristiwa-peristiwa yang diperlihatkan.
6.      Siaran dapat menyampaikan hal-hal yang tidak dapat disajikan oleh guru seperti musik, bentuk-bentuk kebudayaan, kesenian, dan dan sebagainya.
7.      Siaran dapat mengembangkan kesanggupan dan keterampilan atau teknik untuk melihat dan mendengarkan.[5]
TVE (Televisi Edukasi) adalah sebuah stasiun televisi di Indonesia. Stasiun televisi ini khusus ditujukan untuk menyebarkan informasi di bidang pendidikan dan berfungsi sebagai media pembelajaran masyarakat.
Pembelajaran dengan mempergunakan TVE penting dilakukan, karena dengan mempergunakan tayangan TVE dalam pembelajaran, maka guru dapat terbantu untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dibawa guru di kelas karena obyek pembelajaran terlalu kecil (misal: sel, atom, unsur, jaringan, dan lain-lain), obyek pembelajaran terlalu besar (misal: gunung, samudra, pesawat udara, dan lain-lain), kendala geografis (misal: hutan, jurang, pulau terpencil, dan lain-lain), berbahaya (misal: bencana alam, ledakan nuklir, dan lain-lain), informasi dan pengetahuan baru yang sebelumnya tidak pernah didapat guru semasa sekolah ataupun kuliah (misal:semangka berbentuk kubus atau balok).
Melalui tayangan siaran televisi seperti tersebut di atas, siswa pada umumnya memperoleh manfaat yaitu semakin luasnya khasanah pengetahuan atau wawasan; sedangkan peserta didik pada khususnya memperoleh tambahan pengetahuan di luar yang diperoleh dari gurunya. Mengingat besarnya potensi siaran televisi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, maka seyogianya para guru dapat menjadikannya sebagai salah satu sumber belajar dan memanfaatkannya dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM).
Ada 3 pola atau cara pemanfaatan program siaran TVE yang sejauh ini telah dimanfaatkan, yaitu sebagai berikut:
1.     Pemanfaatan Program Siaran TVE sesuai dengan Jadwal Siaran TVE (Pemanfaatan Siaran TVE secara langsung).
Dimana agar pembelajaran selaras dengan jam tayang TVE, maka guru mendownload jadwal tersebut dari situs TVE di internet, atau melalui situs pencari (misal: Google). Selain itu, guru dapat merelai siaran dari TVRI, karena TVE telah melakukan kerjasama dengan stasiun TVRI, program TVE yang ditayangkan adalah diprioritaskan pada mata pelajaran matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.
2.     Pemanfaatan Siaran TVE sebagai Penugasan.
Berdasarkan jadwal tayangan siaran TVE yang ada, guru menugaskan para peserta didiknya untuk mengikuti tayangan siaran TVE tentang mata pelajaran tertentu pada waktu tertentu. Peserta didik dapat melaksanakan tugas ini di sekolah atau di rumah, baik secara perseorangan maupun dalam bentuk kelompok kecil. Untuk membantu pelaksanaan tugas ini, guru hendaknya memberikan format laporan hasil penugasan disertai penjelasan seperlunya. Guru juga menginformasikan batas waktu penyerahan hasil pelaksanaan tugas dan cara-cara penyajiannya di kelas. Pada hari dan waktu yang telah ditetapkan, guru meminta para peserta didiknya untuk manyajikan hasil tugas yang telah dikerjakan di hadapan teman sekelasnya. Peserta didik yang belum mendapat kesempatan untuk menyajikan hasil tugasnya, berperan untuk mengkaji dan memberikan pendapat, tanggapan atau komentar. Melalui aktivitas pembelajaran yang demikian ini, peserta didik dilatih menyusun bahan presentasi, memberikan pendapat, tanggapan atau komentar, dan sekaligus juga berlatih berdiskusi, dan membuat rangkuman/kesimpulan. Pada akhir kegiatan, guru dapat memberikan arahan atau hal-hal yang dinilai penting untuk pengembangan kemampuan peserta didik.
3.     Pemanfaatan Program Siaran TVE sebagai Pengisi Jam Pelajaran Kosong.
Apabila guru berhalangan hadir karena sesuatu hal, maka guru pengganti dapat mengisi jam pelajaran kosong yang ada dengan menayangkan siaran TVE. Intinya adalah bahwa peserta didik tetap dapat belajar sekalipun guru mata pelajaran tertentu berhalangan hadir misalnya. Kegiatan pembelajaran tetap dapat berjalan sebagaimana biasanya. Guru pengganti tinggal menyelenggarakan kegiatan pembelajaran mengikuti RPP yang telah disiapkan sebelumnya. Apabila ada hal-hal yang berkembang selama kegiatan pembelajaran berlangsung, guru pengganti    dapat mencatatnya dan menyampaikannya kepada guru mata pelajaran yang bersangkutan untuk dilakukan tindak lanjut.
Mengacu pada pandangan bahwa anak-anak lebih mudah meniru serta melakukan segala hal yang mereka lihat ketimbang segala hal yang mereka dengar, maka efek positif televisi bagi perkembangan intelektual anak bisa dioptimalkan.
Hal yang menarik dikaji dalam pembahasan televisi sekarang ini, adalah fenomena komersialisasi yang mengintegrasikan media ke dalam sistem kapitalisme. Secara umum televisi memiliki keterkaitan dengan industri pasar. Konsekuensinya media berorientasi pada keuntungan dan akumulasi modal serta sensitif terhadap dinamika persaingan pasar, oleh karena itu media mengintegrasikan diri ke dalam aktivitas industry. Dari fenomena ini, semakin lama televisi menjadi lahan bisnis oleh kalangan tertentu. Hal itu nampak dengan munculnya beberapa televisi swasta yang ditopang melalui iklan komersil.
Konsekuensinya, televisi tidak hanya fokus sebagai media penyiaran, namun juga berkaitan dengan akumulasi modal, bisnis dan persaingan pasar. Program-program televisi yang disiarkan begitu mudah diintervensi oleh berbagai kepentingan kapitalis, yang tak lain adalah bermotif keuntungan belaka. Bagaimanapun juga, televisi juga memiliki kepentingan dengan pemilik modal untuk menopang eksistensi sebagai media penyiaran publik yang mesti menunjukkan eksistensi dan bersaing dengan media televisi lainnya.
Salah satu contohnya adalah acara Eat Bulaga. Salah satu segmen yang tidak mendidik adalah segmen saat anak-anak kecil disuruh tampil di panggung. Segmen itu sebenarnya lucu, karena menampilkan keterampilan anak-anak kecil. Namun setelah mereka menyanyi, komentar dan permintaan dari Uya Kuya cs suka tidak masuk akal, dan menghilangkan sifat alami anak-anak itu. Salah satu kontestan disuruh joget ala Saskia Gotik yang jogetnya menjurus erotis dan tidak layak dipraktekkan untuk anak kecil. Padahal ketika anak kecil tersebut ditanya oleh Uya Kuya, dia menjawab bahwa dia tidak bisa joget. Namun sedikit dipaksa dan anak kecil tersebut pun akhirnya joget. Ini sangat ironis karena anak kecil yang baru berumur 3 tahun diajarkan untuk joget seperti itu.
Akan tetapi kita perlu mengenali beberapa program televisi yang bermanfaat dan mendidik bagi anak-anak. Mengarahkan anak-anak untuk menyaksikan program yang bernilai edukatif adalah bagia dari upaya pendidikan dalam lingkungan keluarga. Para orang tua merupakan sang pendidik terdekat terhadap para anggota keluarga. Menonton acara televisi yang sehat merupakan salah satu upaya memperbaiki kualitas pendidikan masyarakat.
Dapat ditemukan beberapa tayangan televisi yang mendidik atau bersifat edukatif yang masih layak untuk dilihat karena bernilai positif, meningkatkan pengetahuan dan informasi bagi yang menyaksikannya.  Contohnya adalah acara si unyil. Si Unyil telah menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari budaya populer di Indonesia, dan banyak orang tidak dapat melupakan berbagai unsur seri ini, mulai dari lagu temanya yang dimulai dengan kata-kata "Hom-pim-pah alaiyum gambreng!" sampai tokoh-tokoh seperti Pak Raden dan Pak Ogah dan kalimat seperti "Cepek dulu dong!". Pada tahun 2007, acara ini dihidupkan lagi dengan nama Laptop Si Unyil, digawangi oleh Trans7. Karakter, lagu pembuka, dan cerita tetap dipertahankan, kecuali beberapa yang diperbaharui seiring zaman. Seperti ucapan Pak Ogah, yang dulu "Cepek dulu dong" kini jadi "Gopek dulu dong"; dan Unyil didampingi temannya membahas hal-hal pendidikan dengan laptop yang dimiliki teman si Unyil.


C.    Kelebihan dan Kekurangan Televisi dalam Pembelajaran
Kelebihan televisi:
1.      Dapat memancarkan berbagai jenis bahan audio-visual termasuk gambar diam, film, obyek, spesimen, dan drama.
2.      Bisa menyajikan model dan contoh-contoh yang baik bagi siswa.
3.      Dapat membawa dunia nyata ke rumah dan ke kelas-kelas, seperti orang, tempat-tempat, dan peristiwa-peristiwa, melalui penyiaran langsung atau rekaman.
4.      Dapat memberikan peluang kepada siswa untuk melihat dan mendengar diri sendiri.
5.      Dapat menyajikan program-program yang dapat dipahami oleh siswa dengan usia dan tingkatan pendidikan yang berbeda-beda.
6.      Dapat menyajikan visual dan suara yang amat sulit diperoleh di dunia nyata, misalnya ekspresi wajah, dental operation, dan lain-lain.
7.      Dapat menghemat waktu guru dan siswa, misalnya dengan merekam siaran pelajaran yang disajikan dapat diputar ulang jika diperlukan tanpa harus melakukan proses itu kembali.[6]
8.      Dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guru dalam hal mengajar.
9.      Dapat menerima, menggunakan dan mengubah atau membatasi semua bentuk media yang lain, menyesuaikannya dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai.
10.  Televisi merupakan medium yang menarik, modern dan selalu siap diterima oleh anak-anak karena mereka mengenalnya sebagai bagian dari kehidupan luar sekolah mereka.
11.  Dapat memikat perhatian sepenuhnya dari penonton. Seperti halnya film, televisi menyajikan informasi visual dan lisan secara simultan.
12.  Hampir setiap mata pelajaran bisa di televisikan.[7]
Kelemahan televisi :
1.      Hanya mampu menyajikan komunikasi satu arah.
2.      Pada saat disiarkan akan berjalan terus dan tidak ada kesempatan untuk memahami pesan-pesannya sesuai dengan kemampuan individual siswa.
3.      Guru tidak memiliki kesempatan untuk merevisi film sebelum disiarkan.
4.      Tidak bisa menjangkau kelas besar sehingga sulit bagi semua siswa untuk melihat secara rinci gambat yang disiarkan.
5.      Jika akan dimanfaatkan di kelas jadwal siaran dan jadwal pelajaran di sekolah seringkali sulit disesuaikan.
6.      Kekhawatiran muncul bahwa siswa tidak memiliki hubungan pribadi dengan guru, dan siswa bisa jadi bersikap pasif selama penayangan.[8]



















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Televisi adalah sistem elektronik yang mengirimkan gambar diam dan gambar hidup bersama suara melalui kabel atau ruang. Dewasa ini televisi yang dimanfaatkan untuk keperluan pendidikan dengan mudah dapat dijangkau melalui siaran dari udara ke udara dan dapat dihubungkan melalui satelit. Dengan demikian, ada dua jenis pengiriman (penyiaran) gambar dan suara, yaitu penyiaran langsung kejadian atau peristiwa yang kita saksikan sementara ia terjadi dan penyiaran yang telah direkam di atas pita film atau pita video.
Ada 3 pola atau cara pemanfaatan program siaran TVE yang sejauh ini telah dimanfaatkan, yaitu sebagai berikut:
1.      Pemanfaatan Program Siaran TVE sesuai dengan Jadwal Siaran TVE (Pemanfaatan Siaran TVE secara langsung).
2.      Pemanfaatan Siaran TVE sebagai Penugasan.
3.      Pemanfaatan Program Siaran TVE sebagai Pengisi Jam Pelajaran Kosong
Beberapa Kelebihan dan kelemahan televisi :
1.      Dapat memancarkan berbagai jenis bahan audio-visual termasuk gambar diam, film, obyek, spesimen, dan drama.
2.      Hanya mampu menyajikan komunikasi satu arah.







DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar. 2010. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Nasution. 2011. Teknologi Pendidikan.Jakarta: Bumi Aksara.
Sadiman, Arif S. 2007. Media Pendidikan; Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sujana, Nana dan Ahmad Rifai. 2009. Teknologi Pendidikan. Bandung: Sinar Baru A  lgensindo.



[1] Nana Sujana dan Ahmad Rifai, Teknologi Pendidikan (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009), hlm.390

[2] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 50-51
[3] Arif S. Sadiman  dkk, Media Pendidikan; Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 73
[4]Azhar Arsyad, Loc .Cit., hlm. 50-51
[5] Nasution, Teknologi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2011) hlm. 106-107
[6] Azhar Arsyad, Op, Cit., hlm. 51-52
[7] Arif S Sadiman, Op, Cit., hlm. 73-75
[8] Azhar Arsyad, Op, Cit., hlm. 52

Tidak ada komentar:

Posting Komentar