MAKALAH
MEDIA PENDIDIKAN BERBASIS AUDIO VISUAL
“TELEVISI”
Disusun Guna Memenuhi Tugas:
Mata Kuliah : Teknologi Pendidikan
Dosen Pengampu : Moch. Iskarim, M.S.I

Oleh :
Nurul Awaliyah 2022111076
PRODI
PBA
JURUSAN
TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2013
BAB I
PENDAHULUAN
Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) telah memulai
sirannya sejak tanggal 23 Januari 1991. TPI diselenggarakan dengan dorongan
semangat untuk membantu mencerdaskan kehidupan bangsa, serta untuk membantu
mewujudkan hak semua warga negara Indonesia untuk memperoleh pengajaran. TPI
sebagai salah satu bentuk peran serta masyarakat, mempunyai misi untuk mewujudkan
manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri sertaa
bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Media televisi secara umum mempunyai tiga fungsi, yaitu
fungsi hiburan, informasi, dan pendidikan. Khususnya pada TPI, sesuai dengan
namanya, fungsi pendidikan merupakan ciri utamanya. Ditinjau dari segi
komposisi isi siaran, maka acara pendidikan mendapat alokasi sebanyak 33,2%
(masing-masing separuh untuk pendidikan sekolah dan untuk pendidikan luar
sekolah), acara hiburan 31,9%, acara niaga 20%, acara berita/informasi 12,5%,
dan acara penunjang 2,4%.[1]
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Televisi
Kata “televisi” merupakan gabungan dari kata tele
(jauh) dari bahasa Yunani dan visio (penglihatan) dari bahasa Latin.
Sehingga televisi dapat diartikan sebagai telekomunikasi yang dapat dilihat
dari jarak jauh. Penemuan
televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah
peradaban dunia. Di Indonesia televisi secara tidak formal disebut dengan TV,
tivi, teve atau tipi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Televisi
artinya adalah
sistem penyiaran gambar yang disertai dengan bunyi (suara) melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat didengar .
sistem penyiaran gambar yang disertai dengan bunyi (suara) melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat didengar .
Televisi adalah sistem elektronik yang mengirimkan gambar diam dan
gambar hidup bersama suara melalui kabel atau ruang. Dewasa ini televisi yang
dimanfaatkan untuk keperluan pendidikan dengan mudah dapat dijangkau melalui
siaran dari udara ke udara dan dapat dihubungkan melalui satelit. Dengan
demikian, ada dua jenis pengiriman (penyiaran) gambar dan suara, yaitu
penyiaran langsung kejadian atau peristiwa yang kita saksikan sementara ia
terjadi dan penyiaran yang telah direkam di atas pita film atau pita video.[2] Selain
film, televisi adalah media yang menyampaikan pesan-pesan
pembelajaran secara audio-visual dengan disertai unsur gerak. Dilihat dari
sudut jumlah penerima pesannya televisi tergolong ke dalam media massa.[3] Televisi
pendidikan adalah penggunaan program video yang direncanakan untuk mencapai
tujuan pengajaran tertentu tanpa melihat siapa yang menyiarkannya.
Ciri-ciri televisi pendidikan, yaitu:
1. Dituntun oleh instruktur, seorang guru atau instruktur menuntun siswa
melalui pengalaman-pengalaman visual.
2.
Sistematis, siaran berkaitan dengan mata pelajaran dan silabus
dengan tujuan dan pengalaman belajar yang terencana.
3.
Teratur dan berurutan, siaran disajikan dengan selang waktu yang
beraturan secara berurutan di mana satu siaran dibangun atau mendasari siaran
lainnya.
4.
Terpadu, siaran berkaitan dengan pengalaman belajar lainnya seperti
latihan, membaca, diskusi, laboratorium, percobaan, menulis, dan pemecahan
masalah.
Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa siswa yang belajar melalui program televisi untuk
berbagai mata pelajaran dapat menguasai
mata pelajaran tersebut sama seperti mereka yang mempelajarinya melalui tatap
muka dengan guru kelas.[4]
B. Manfaat
Televisi dalam Pembelajaran
Selain banyak terdapat siaran yang bermanfaat
secara khusus, di siaran televisi juga terdapat siaran-siaran umum yang
mempunyai nilai pendidikan yang sangat tinggi, seperti siaran “dari desa
kedesa”
Beberapa alasan menggunakan siaran televisi :
1. Siaran dapat membawa dunia luar ke dalam kelas
yang menyamai pengalaman langsung.
2. Siaran merupakan sumber informasi yang paling
mutakhir dalam bentuk yang mudah dipahami, di samping buku, film, gambar, dan
lain-lain.
3. Siaran menciptakan suasana yang menyenangkan,
merangsang dan membangkitkan ide-ide baru.
4. Siaran dapat memberi informasi yang tidak
segera dapat diberikan oleh guru atau tak dapat disajikannya dalam bentuk yang
dapat menyamai siaran itu.
5. Cara penyajian oleh siaran sangat hidup,
menarik dan mengundang keterlibatan anak dalam peristiwa-peristiwa yang
diperlihatkan.
6. Siaran dapat menyampaikan hal-hal yang tidak
dapat disajikan oleh guru seperti musik, bentuk-bentuk kebudayaan, kesenian,
dan dan sebagainya.
7. Siaran dapat mengembangkan kesanggupan dan
keterampilan atau teknik untuk melihat dan mendengarkan.[5]
TVE (Televisi Edukasi) adalah sebuah stasiun televisi di Indonesia. Stasiun
televisi ini khusus ditujukan untuk menyebarkan informasi di bidang pendidikan
dan berfungsi sebagai media pembelajaran masyarakat.
Pembelajaran dengan mempergunakan TVE penting
dilakukan, karena dengan mempergunakan tayangan TVE dalam pembelajaran, maka
guru dapat terbantu untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dibawa guru di
kelas karena obyek pembelajaran terlalu kecil (misal: sel, atom, unsur,
jaringan, dan lain-lain), obyek pembelajaran terlalu besar (misal: gunung,
samudra, pesawat udara, dan lain-lain), kendala geografis (misal: hutan,
jurang, pulau terpencil, dan lain-lain), berbahaya (misal: bencana alam,
ledakan nuklir, dan lain-lain), informasi dan pengetahuan baru yang sebelumnya
tidak pernah didapat guru semasa sekolah ataupun kuliah (misal:semangka
berbentuk kubus atau balok).
Melalui tayangan siaran televisi seperti
tersebut di atas, siswa pada umumnya memperoleh manfaat yaitu semakin luasnya
khasanah pengetahuan atau wawasan; sedangkan peserta didik pada khususnya
memperoleh tambahan pengetahuan di luar yang diperoleh dari gurunya. Mengingat
besarnya potensi siaran televisi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan
pembelajaran, maka seyogianya para guru dapat menjadikannya sebagai salah satu
sumber belajar dan memanfaatkannya dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM).
Ada 3 pola atau cara pemanfaatan program
siaran TVE yang sejauh ini telah dimanfaatkan, yaitu sebagai berikut:
1.
Pemanfaatan Program Siaran TVE sesuai dengan Jadwal Siaran TVE
(Pemanfaatan Siaran TVE secara langsung).
Dimana agar
pembelajaran selaras dengan jam tayang TVE, maka guru mendownload jadwal
tersebut dari situs TVE di internet, atau melalui situs pencari (misal: Google).
Selain itu, guru dapat merelai siaran dari TVRI, karena TVE telah melakukan
kerjasama dengan stasiun TVRI, program TVE yang ditayangkan adalah
diprioritaskan pada mata pelajaran matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa
Inggris.
2. Pemanfaatan Siaran TVE sebagai Penugasan.
Berdasarkan
jadwal tayangan siaran TVE yang ada, guru menugaskan para peserta didiknya
untuk mengikuti tayangan siaran TVE tentang mata pelajaran tertentu pada waktu
tertentu. Peserta didik dapat melaksanakan tugas ini di sekolah atau di rumah,
baik secara perseorangan maupun dalam bentuk kelompok kecil. Untuk membantu
pelaksanaan tugas ini, guru hendaknya memberikan format laporan hasil penugasan
disertai penjelasan seperlunya. Guru juga menginformasikan batas waktu
penyerahan hasil pelaksanaan tugas dan cara-cara penyajiannya di kelas. Pada
hari dan waktu yang telah ditetapkan, guru meminta para peserta didiknya untuk
manyajikan hasil tugas yang telah dikerjakan di hadapan teman sekelasnya.
Peserta didik yang belum mendapat kesempatan untuk menyajikan hasil tugasnya,
berperan untuk mengkaji dan memberikan pendapat, tanggapan atau komentar.
Melalui aktivitas pembelajaran yang demikian ini, peserta didik dilatih
menyusun bahan presentasi, memberikan pendapat, tanggapan atau komentar, dan
sekaligus juga berlatih berdiskusi, dan membuat rangkuman/kesimpulan. Pada akhir kegiatan, guru dapat memberikan arahan atau hal-hal yang
dinilai penting untuk pengembangan kemampuan peserta didik.
3.
Pemanfaatan
Program Siaran TVE sebagai Pengisi Jam Pelajaran Kosong.
Apabila guru
berhalangan hadir karena sesuatu hal, maka guru pengganti dapat mengisi jam
pelajaran kosong yang ada dengan menayangkan siaran TVE. Intinya adalah bahwa
peserta didik tetap dapat belajar sekalipun guru mata pelajaran tertentu berhalangan
hadir misalnya. Kegiatan pembelajaran tetap dapat berjalan sebagaimana
biasanya. Guru pengganti tinggal menyelenggarakan kegiatan pembelajaran
mengikuti RPP yang telah disiapkan sebelumnya. Apabila ada hal-hal yang
berkembang selama kegiatan pembelajaran berlangsung, guru pengganti dapat mencatatnya dan menyampaikannya
kepada guru mata pelajaran yang bersangkutan untuk dilakukan tindak lanjut.
Mengacu pada
pandangan bahwa anak-anak lebih mudah meniru serta melakukan segala hal yang
mereka lihat ketimbang segala hal yang mereka dengar, maka efek positif
televisi bagi perkembangan intelektual anak bisa dioptimalkan.
Hal
yang menarik dikaji dalam pembahasan televisi sekarang ini, adalah fenomena
komersialisasi yang mengintegrasikan media ke dalam sistem kapitalisme. Secara
umum televisi memiliki keterkaitan dengan industri pasar. Konsekuensinya media
berorientasi pada keuntungan dan akumulasi modal serta sensitif terhadap
dinamika persaingan pasar, oleh karena itu media mengintegrasikan diri ke dalam
aktivitas industry. Dari fenomena ini, semakin lama televisi menjadi lahan bisnis
oleh kalangan tertentu. Hal itu nampak dengan munculnya beberapa televisi
swasta yang ditopang melalui iklan komersil.
Konsekuensinya,
televisi tidak hanya fokus sebagai media penyiaran, namun juga berkaitan dengan
akumulasi modal, bisnis dan persaingan pasar. Program-program televisi yang
disiarkan begitu mudah diintervensi oleh berbagai kepentingan kapitalis, yang
tak lain adalah bermotif keuntungan belaka. Bagaimanapun juga, televisi juga
memiliki kepentingan dengan pemilik modal untuk menopang eksistensi sebagai
media penyiaran publik yang mesti menunjukkan eksistensi dan bersaing dengan
media televisi lainnya.
Salah
satu contohnya adalah acara
Eat Bulaga. Salah
satu segmen yang tidak mendidik adalah segmen saat anak-anak kecil disuruh tampil di panggung.
Segmen itu sebenarnya lucu, karena menampilkan keterampilan anak-anak kecil.
Namun setelah mereka menyanyi, komentar dan permintaan dari Uya Kuya cs suka tidak
masuk akal, dan menghilangkan sifat alami anak-anak itu. Salah satu kontestan disuruh joget ala Saskia Gotik yang
jogetnya menjurus erotis dan tidak layak dipraktekkan untuk anak kecil. Padahal
ketika anak kecil tersebut ditanya oleh Uya Kuya, dia menjawab bahwa dia tidak
bisa joget. Namun sedikit dipaksa dan anak kecil tersebut pun akhirnya joget.
Ini sangat ironis karena anak kecil yang baru berumur 3 tahun diajarkan untuk joget seperti itu.
Akan
tetapi kita perlu mengenali beberapa program televisi yang bermanfaat dan
mendidik bagi anak-anak. Mengarahkan anak-anak untuk menyaksikan program yang
bernilai edukatif adalah bagia dari upaya pendidikan dalam lingkungan keluarga.
Para orang tua merupakan sang pendidik terdekat terhadap para anggota keluarga.
Menonton acara televisi yang sehat merupakan salah satu upaya memperbaiki
kualitas pendidikan masyarakat.
Dapat
ditemukan beberapa tayangan televisi yang mendidik atau bersifat edukatif yang
masih layak untuk dilihat karena bernilai positif, meningkatkan pengetahuan dan
informasi bagi yang menyaksikannya.
Contohnya adalah acara si unyil. Si Unyil
telah menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari budaya populer di Indonesia, dan
banyak orang tidak dapat melupakan berbagai unsur seri ini, mulai dari lagu
temanya yang dimulai dengan kata-kata "Hom-pim-pah alaiyum gambreng!"
sampai tokoh-tokoh seperti Pak Raden dan Pak Ogah dan kalimat seperti "Cepek dulu dong!".
Pada
tahun 2007, acara ini dihidupkan lagi dengan nama Laptop Si Unyil, digawangi oleh Trans7. Karakter, lagu
pembuka, dan cerita tetap dipertahankan, kecuali beberapa yang diperbaharui
seiring zaman. Seperti ucapan Pak Ogah, yang dulu "Cepek dulu dong"
kini jadi "Gopek dulu dong"; dan Unyil didampingi temannya membahas
hal-hal pendidikan dengan laptop yang dimiliki teman si Unyil.
C. Kelebihan dan
Kekurangan Televisi dalam Pembelajaran
Kelebihan televisi:
1.
Dapat memancarkan berbagai jenis bahan audio-visual termasuk gambar
diam, film, obyek, spesimen, dan drama.
2.
Bisa menyajikan model dan contoh-contoh yang baik bagi siswa.
3.
Dapat membawa dunia nyata ke rumah dan ke kelas-kelas, seperti
orang, tempat-tempat, dan peristiwa-peristiwa, melalui penyiaran langsung atau
rekaman.
4.
Dapat memberikan peluang kepada siswa untuk melihat dan mendengar
diri sendiri.
5.
Dapat menyajikan program-program yang dapat dipahami oleh siswa
dengan usia dan tingkatan pendidikan yang berbeda-beda.
6.
Dapat menyajikan visual dan suara yang amat sulit diperoleh di
dunia nyata, misalnya ekspresi wajah, dental operation, dan lain-lain.
7.
Dapat menghemat waktu guru dan siswa, misalnya dengan merekam
siaran pelajaran yang disajikan dapat diputar ulang jika diperlukan tanpa harus
melakukan proses itu kembali.[6]
8.
Dapat
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guru dalam hal mengajar.
9.
Dapat
menerima, menggunakan dan mengubah atau membatasi semua bentuk media yang lain,
menyesuaikannya dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai.
10.
Televisi merupakan
medium yang menarik, modern dan selalu siap diterima oleh anak-anak karena
mereka mengenalnya sebagai bagian dari kehidupan luar sekolah mereka.
11.
Dapat memikat perhatian sepenuhnya dari penonton. Seperti halnya film, televisi
menyajikan informasi visual dan lisan secara simultan.
Kelemahan televisi :
1.
Hanya mampu menyajikan komunikasi satu arah.
2.
Pada saat disiarkan akan berjalan terus dan tidak ada kesempatan
untuk memahami pesan-pesannya sesuai dengan kemampuan individual siswa.
3.
Guru tidak memiliki kesempatan untuk merevisi film sebelum
disiarkan.
4.
Tidak bisa menjangkau kelas besar sehingga sulit bagi semua siswa
untuk melihat secara rinci gambat yang disiarkan.
5.
Jika akan dimanfaatkan di kelas jadwal siaran dan jadwal pelajaran
di sekolah seringkali sulit disesuaikan.
6.
Kekhawatiran muncul bahwa siswa tidak memiliki hubungan pribadi
dengan guru, dan siswa bisa jadi bersikap pasif selama penayangan.[8]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Televisi adalah sistem elektronik
yang mengirimkan gambar diam dan gambar hidup bersama suara melalui kabel atau
ruang. Dewasa ini televisi yang dimanfaatkan untuk keperluan pendidikan dengan
mudah dapat dijangkau melalui siaran dari udara ke udara dan dapat dihubungkan
melalui satelit. Dengan demikian, ada dua jenis pengiriman (penyiaran) gambar
dan suara, yaitu penyiaran langsung kejadian atau peristiwa yang kita saksikan
sementara ia terjadi dan penyiaran yang telah direkam di atas pita film atau
pita video.
Ada 3 pola atau cara pemanfaatan program siaran TVE yang
sejauh ini telah dimanfaatkan, yaitu sebagai berikut:
1. Pemanfaatan Program Siaran TVE sesuai dengan
Jadwal Siaran TVE (Pemanfaatan Siaran TVE secara langsung).
2. Pemanfaatan
Siaran TVE sebagai Penugasan.
3. Pemanfaatan
Program Siaran TVE sebagai Pengisi Jam Pelajaran Kosong
Beberapa Kelebihan dan kelemahan televisi :
1.
Dapat memancarkan berbagai jenis bahan audio-visual termasuk gambar
diam, film, obyek, spesimen, dan drama.
2.
Hanya mampu menyajikan komunikasi satu arah.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar. 2010. Media
Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Nasution. 2011. Teknologi
Pendidikan.Jakarta: Bumi Aksara.
Sadiman, Arif S. 2007. Media Pendidikan; Pengertian,
Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sujana, Nana dan Ahmad Rifai. 2009. Teknologi Pendidikan. Bandung: Sinar Baru A lgensindo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar